Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bahasa Daerah Papua di Ujung Senja, Negara Jangan Datang Terlambat

Januari 29, 2026 | Januari 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-29T04:17:03Z
TOLITV NEWS -Jakarta - Papua adalah mozaik besar peradaban bahasa. Dari pesisir hingga pegunungan, dari lembah-lembah sunyi hingga kampung-kampung yang memeluk kabut pagi, bahasa daerah hidup sebagai napas identitas.

 Namun hari ini, napas itu kian pendek. Banyak bahasa ibu di Papua berdiri di tepi senja—pelan, rapuh, dan nyaris tak terdengar.

Pernyataan Senator DPD RI asal Papua Pegunungan, Arianto Kogoya, dalam RDPU di Jakarta, sejatinya bukan sekadar catatan rapat. 

Itu adalah alarm keras bagi negara. Ketika ratusan bahasa daerah terancam punah, yang dipertaruhkan bukan hanya kata dan bunyi, melainkan ingatan kolektif orang Papua:

 pengetahuan adat, nilai hidup, cara memahami alam, dan jati diri.

Bahasa daerah bukan aksesoris budaya. Ia adalah rumah pertama manusia. 

Di sanalah seorang anak belajar menyebut ibu, tanah, hutan, dan Tuhan. Ketika bahasa hilang, rumah itu runtuh. Anak-anak Papua kemudian tumbuh tanpa pintu untuk pulang pada akar budayanya sendiri.

Sayangnya, seperti disoroti Arianto, upaya pelestarian selama ini masih sering berhenti pada seremoni. 

Festival sesaat, seminar sesekali, dokumentasi yang tersimpan di rak, tetapi tidak hidup di lidah generasi muda. 

Negara hadir, tetapi belum sepenuhnya tinggal dan bekerja bersama masyarakat adat.

RUU Pemajuan Kebudayaan seharusnya menjadi jalan terang, bukan lorong gelap baru. 

Penyeragaman kebijakan dari pusat justru berisiko mematikan keunikan lokal Papua. Setiap bahasa punya konteks sosial, geografis, dan sejarahnya sendiri.

 Karena itu, pelestarian bahasa harus berbasis kampung, sekolah, gereja, dan keluarga—dengan dukungan anggaran yang nyata, bukan simbolik.

Di Papua, bahasa daerah tidak bisa diselamatkan dengan pendekatan satu resep untuk semua. Negara harus hadir dengan kerendahan hati, mendengar masyarakat adat, memberi ruang pemerintah daerah, dan mempercayai orang Papua sebagai penjaga utama bahasanya sendiri.

Catatan ini sederhana namun mendesak:
Jika negara terlambat bertindak, generasi mendatang hanya akan mengenal bahasa daerah Papua sebagai catatan kaki sejarah—bukan sebagai suara yang hidup.

 Dan saat itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan bahasa, tetapi kehilangan sebagian jiwa bangsa.

Menjaga bahasa daerah Papua berarti menjaga masa depan Indonesia yang beragam, adil, dan bermartabat.

*TOLI WONE NEWS*
_Suara dari Lembah, Menjaga Nurani Papua
×
Berita Terbaru Update