KARUBAGA(tolitvnews.com)-Sering kali, sentralisasi dipahami sebagai stabilitas. Padahal stabilitas yang terlalu bergantung pada kontrol bisa rapuh ketika diuji.
Stabilitas yang lebih tahan uji justru lahir dari kepercayaan. Warga merasa punya bagian, daerah merasa dipercaya, dan pusat merasa didukung oleh sistem yang sehat.
Papua raya yang bermartabat bukan Papua yang paling rapi administrasinya, melainkan Papua yang dipercaya dan mempercayai.
Bukan Papua yang sekadar diatur, tetapi Papua yang bertumbuh sebagai subjek, berdaulat dalam kewenangan, mandiri dalam penghidupan, dan diakui martabatnya dalam kebijakan.
Papua Raya 2026 tidak seharusnya hanya menjadi slogan percepatan fisik. Ia harus menjadi arah pemulihan relasi.
yakni relasi kepercayaan antara negara dan rakyat di tanah Papua. Indonesia akan disebut bermartabat bukan ketika Papua “diam dan patuh”, melainkan ketika Papua tumbuh sebagai mitra sejajar yang percaya diri dan dipercaya.
Pada akhirnya, martabat Papua adalah cermin paling jernih dari martabat Indonesia. Jika negara berani percaya, memberi ruang belajar, dan berjalan bersama Papua dalam kejujuran, maka “raya” dan “bermartabat” tidak lagi berhenti sebagai jargon.
Ia akan hadir sebagai pengalaman hidup sehari-hari —pada senyum anak-anak di ruang kelas, pada dapur keluarga yang terjaga, pada kampung yang ekonominya tumbuh, dan pada rakyat yang kembali punya alasan untuk percaya.
Selamat menyongsong 2026. Mari kita jadikan kepercayaan sebagai kebijakan utama agar Papua raya benar-benar bermartabat sehingga Indonesia benar-benar dewasa sebagai sebuah bangsa
