JAYAPURA.TOLITVNEWS-Tombak merupakan senjata utama masyarakat Biak di Kepulauan Schouten dan Padaido,(Biak) Dalam kehidupan orang Biak pada awal abad ke-20, tombak menempati posisi yang jauh lebih penting dibandingkan panah dan busur Pertempuran dengan panah dan busur dianggap hanya sebagai “Spielerei” atau semacam permainan dan pertunjukan, sedangkan tombak adalah senjata yang benar-benar ditakuti.
Orang Biak hampir selalu menggunakan tombak sebagai senjata lempar Keahlian mereka dalam melempar tombak sangat tinggi.
Menurut pengamatan Feuilletau de Bruyn, 1916,ia tidak pernah melihat lemparan yang meleset pada jarak 5 hingga 15 meter, bahkan ketika sasaran sedang bergerak cepat, Tombak biasa memiliki panjang sekitar 2,5 meter.
Ujung tombak umumnya terbuat dari baja yang ditempa oleh pandai besi setempat yaitu Kamasan.
Baja tersebut diperoleh dari para pedagang juga sisa-sisa parang tua yang diolah kembali.
Pandai besi Biak, terutama di kampung Sowek dan Korido, dikenal sangat mahir. Parang-parang berkualitas rendah yang dibawa pedagang Cina sering diperbaiki dan ditingkatkan mutunya di tempat tersebut, termasuk menjadi ujung tombak.
Jenis-jenis Tombak Biak
Berdasarkan bentuk dan bahannya, tombak Biak dibedakan menjadi beberapa jenis Berdasarkan bentuk ujungnya, jenis ini dibedakan lagi menjadi empat model.
A. Sanda berbentuk belah ketupat (diamond).
B. Saboekoe berbentuk mata panah lebar dengan bahu yang tegas.
C. Mgadin berbentuk segitiga kecil dengan tonjolan di pangkal.
D. Adin berbentuk daun memanjang dan ramping.
Perawatan dan Tradisi
Ujung baja tombak selalu dilumasi minyak kelapa agar tidak berkarat.
Setiap orang Biak membawa sepotong batu kecil (karui beyasyas) di dalam noken (tas) untuk mengasah dan menghaluskan tombak secara rutin.
Tombak yang pernah digunakan untuk membunuh orang sering diberi nama khusus.
Salah satu contoh yang dicatatat oleh Feuilletau de bruyn Tahun 1916 adalah tombak milik Pemimpin/Manbri dari Kmur yang diberi nama Indoku.
Selain sebagai senjata perang, tombak juga memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat.
Tombak menjadi simbol keberanian dan keterampilan, serta sering muncul dalam berbagai ritual dan tradisi masyarakat Biak.
Sumber. Feulletau de bruyn 1920.
Dikutip kembali oleh:
Manfasfas Kankain Karkara Mnu Doiadori-Mansoben, Sup Mnuk Sauyas, Supiori-Papua.
Wompere Frans
Salam Literasi
