Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kilas Balik Injil Masuk di Gurik Paga Tiom Lanny Jaya 28 Oktober 1956

April 13, 2026 | April 13, 2026 WIB Last Updated 2026-04-13T11:53:06Z
Kilas Balik Injil Masuk di Lanny Jaya

Oleh: Wilson Wenda

Tulisan ini ditulis dalam rangka Hari Injil Masuk (HIM) di Kabupaten Kabupaten Lanny Jaya yang ke-66. Ceritanya sangat kurang dan terbatas, tetapi saya menulis berdasarkan apa yang saya dengan dari orang tua dan lainnya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita sekalian. Selamat membacanya.

Sejarah perkembangan agama-agama, gereja-gereja dan pemerintahan di Tanah Papua tidak terlepas dari pengaruh Portugis dan Spanyol yang dibawa abad ke-19 masih kendalikan oleh imperium Romawi. Pada waktu itu Roma secara aktif meminjam tangan kedua kerajaan tersebut.

Ketiga pihak ini mendorong kepentingan bersama dalam istilah yang dikenal tiga ‘G’, yaitu: gold (kekayaan), glory (kejayaan) dan gospel (agama/pelayanan). Untuk mendukung itu, pada 4 Juni 1474 Spanyol dan Portus melakukan perjanjian yang disebut Perjanjian Tordesillas.

Perjanjian ini berisi tentang pembagian wilayah kekuasaan di dunia ini. Dunia ini dibagi dua. Bagian Timur, termasuk Asia—Indonesia dan Papua dipercayakan kepada Portugis. Sedangkan bagian Barat jatuh di tangan Portugis.

 Semua kerajaan lain di Timur dan Barat dulu dikendalikan oleh dua rasksasa kerajaan yang masih bersekutu dengan imperium Romawi.

Hubungan orang Papua dengan kerajaan Sriwijaya, Sultan Tidore, pemerintah Belanda dan Indonesia, bahkan para misionaris yang masuk di Tanah Papua mengikuti garis sejarah perjanjian diatas. 

Sejarah perkembangan agama di Tanah Papua juga, sekali lagi masih kuat dengan pengaruh perjanjian diatas.

Perkabaran Injil Pertama
Orang Papua dulu hidup dalam kegelapan: peperangan—konflik berkepanjangan antar klen dan wilayah. Tidak ada kedamaian dan kebebasan tanpa ancaman, ketakutan dan lainnya. 

Hidup dalam serba keterbatasan dan kekurangan. Punya relasi kuat dengan leluhur dan moyang. Buta aksara menyelimuti kehidupan. Kesehatan makin para. 

Pokoknya semuanya tidak beres sebelum menerima Injil dan Yesus Kristus sebagai juru selamat.

Dalam situasi yang gelap seperti itu Injil masuk di Tanah Papua. Bukan sekedar menerangi Tanah ini, melainkan menerangi mata hati nurani orang Papua dalam terang Kristus Yesus. Benih Injil yang dibawakan misionaris merintis pada dasar-dasar kehidupan yang boleh dikatakan bahaya dan parah.

Persebaran Injil sendiri dimulai dari pesisir, wilayah utara. Mansinam, Manokwari, Papua Barat menjadi pusat Pekabaran Injil pertama di Tanah Papua. 

Pertama diperkenalkan oleh misionaris asal Jerman (Eropa), yaitu; Ottow dan Geisller. Mereka tiba pada 5 Februari 1855, sekitar 167 tahun yang lalu. Setelah turun dari kapal layar di pulau itu, mereka memberkati Tanah Papua lebih dulu.

“Kami menginjak tanah ini dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”, demikian secuil kalimat yang diungkapkan oleh kedua misionaris ini.

 Tentu tidak persis demikian, ada teks aslinya. Tetapi bunyinya dan maknanya kurang lebih seperti itu.

Kedua orang inilah yang dengan pertolongan Roh Kudus memperkenalkan nama Yesus Kristus.

 Kedua misionaris ini diutus dan terafiliasi dalam Zending, yang kemudian akan melahirkan Sinode GKI di Tanah Papua. 

Kurang lebih tiga belas tahun berada di atas Tanah Papua untuk memperkenalkan Yesus Kristus.

 Barulah kemudian, orang asli Papua dengan misionaris lainya menyebarkan dimana-mana—seluruh Tanah Papua.

Bukan berarti orang Papua di seluruh Tanah Papua sudah aman. Di wilayah pesisir tertentu, yang aksesnya terbuka dengan jalur transportasi mudah membangun kontak dengan orang luar, termasuk misionaris.

 Akan tetapi bagi orang Papua lain yang ada di perkampungan, pedalaman dan jauh dari lautan, sungai dan danau masih tetap hidup dalam kegelapan.

Kami di wilayah kekuasaan suku Lanny pun sama. Pada waktu itu moyang-moyang, tete-tete dan orang-orang tua dulu hidup dalam peperangan, permusuhan, pertumpahan darah hingga korban nyawa. Sampai ada yang cerita kalau dulu ada orang makan daging manusia.

Berita semacam ini mulai tersebar di luar negeri. Bahkan heboh disana. Di Eropa misalnya, orang menganggap bahwa orang Papua masih primitif, sehingga perlu ditolong dan diselamatkan melalui Injil Kristus. Hal itu mendorong satu per satu misionaris dari berbagai Negara serta aliran agama dan gereja mulai membanjiri tanah ini.

Injil Masuk di Lanny Jaya
Salah satu orang yang pernah mendegarkan kabar diatas adalah Norman Sehila Draver. Draver adalah orang migran Australia. 

Dia pendeta yang pernah ditugaskan oleh ABMS (Australian Baptist Missionay Society), sekarang bernama GIA (Global Inter Action) untuk menyebarkan Injil di PNG. Pada waktu itu tinggal di PNG. Kemudian mendengar berita tentang situasi di Papua.

Ia kemudian tertarik untuk ke wilayah barat daya PNG ini—Papua. Sebelum dia masuk, ada tim ekspedisi yang lebih dulu masuk di wilayah Lanny. 

Ketika Norman Sehila Draver masuk pada saat masyakarat masih melakukan perang antar klen, suku dan wilayah.

Kedua kubu yang berperang berhenti saling menyerang dan semua menceritakan soal pesawat itu. 

Pesawat ini ditumpangi oleh tim ekspedisi. Tim ini dari Sentani mendarat di Bakondini Kemudian mereka ke, Poga, Yulu, Ndanime, Maki, dan berakhir di Tiom.

Mereka jalan sekitar bulan Oktober. Selama perjalanan mereka habiskan waktu kurang lebih satu minggu. Disitu mereka menembus situasi yang gawat, bahkan pecek, lumpur dan hutan lebat. 

Mereka ketemu masyarakat dan masyarakat yang bisa menerima mereka dijadikan sebagai juru bicara. Bahasa syarat menjadi sarana komunikasi untuk saling memahami.

Ketika Injil itu diperkenalkan kepada orang Lanny, tidak terlalu sulit untuk diterima sebagai suatu kepercayaan yang benar.

 Dengan Pertolongan Tuhan, Injil ini di terima oleh kepala suku beserta dengan sejumlah orang tua. Atas berkat Injil ini banyak mengenal Tuhan dengan benar.

Banyak kepala suku yang sebelumnya menjadi kepala perang bertobat dan menerima ajaran tentang Yesus. Salah satunya bapak Pigirik Yoman, Dianggwa Wenda dkk. Di daerah Lapago, khususnya di wilayah Lanny, misi ABMS ini menjadi pijakkan pertama sebelum pemerintah, agama dan gereja lain masuk di wilayah kekuasaan dan kedaulatan suku Lanny.

Banyak juga penginjil lokal dari Baptis yang disiapkan oleh misionaris ABMS pada waktu itu. Hingga mereka yang ikut pendidikan penginjilan diutus ke daerah-daerah lain, seperti Anggruk, Kosarek, Ninia, Momuna dan lainnya dengan tuntunan Roh Kudus. 

Nmun Kurang adanya proteksi secara admistrasi dan keuangan dari gereja Baptis membuat banyak penginjil dari gereja ini bergabung ke GKI, GIDI, Kingmi dan lainya.

Gereja ini sekarang telah mencapai usia 65 tahun. Sebuah usia yang sangat tua. Ini seperti orang tua sekarat yang usianya menuju senja hari. Usianya sangat tua karena masa mudanya sudah habis.

 Masa muda, remaja dan dewasa sudah dilewatinya dalam proses yang sangat panjang. Sekarang berada pda usia yang selayaknya seorang tua yang tidak kuat bekerja lagi.

Pertanyaannya: pada usia yang tua ini apa yang telah kita lakukan dan capai? Apakah selama ini kita sudah berjalan sesuai dengan prinsip dasar dan orientasi pelayanan Baptis? Tujuan akhir apa yang hendak dicapai oleh gereja ini selama tumbuh, berakar, dan berkembang di Tanah Papua?

Berapa banyak manusia yang disiapkan oleh gereja ini? Berapa nyawa manusia yang diselamatkan oleh gereja ini? Berapa Penginjil yang meng-Injili di Papua bahkan dunia? Apakah akan terus terikat dengan isu internal sesama Baptis?

Sudah waktunya Baptis membenahi diri, tertib admistrasi, tertib manajemen, dan tertib keuangan. 

Kemudian terus melangkah kedepan dan menjadi garda terdepan untuk misi sorga ditanah Papua bahkan dunia. Gereja ini haruslah tumbuh, berakar dan kokoh di Tanah Papua.

Semoga perisitiwa Injil Masuk di Gurikpaga 28 Oktober 1956 menjadi hari bersejarah seluruh Kabupaten Lanny Jaya. 

Bila perlu membuat hari libur melalui peraturan daerah dan setiap tahun semua orang yang ada di Lanny Jaya rayakan sama-sama.

Dengan Ini saya menyampaikan selamat memperingati Hari Injil Masuk (HIM) di Gurikpaga, Tiyom, Lanny Jaya, Papua yang ke-66. Semoga kita semakin berakar ke dalam untuk kokoh berbuah di luar. Damai Tuhan senantiasa menyertai kita sekalian.

Jayapura, Jumat, 28 Oktober 2022

Penulis,Pimpinan Kaum Muda Baptis Wilayah Tabi
×
Berita Terbaru Update