Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

SURAT TERBUKA UNTUK PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

September 10, 2026 | September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-10T05:17:59Z
WAMENA.TOLITVNEWS-SURAT TERBUKA UNTUK PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Dari saya Onesimus Puling seorang anak Nusa Tenggara Timur yang kehilangan seorang anak daerahnya

Kepada Yth.
Pemerintah Republik Indonesia
di tempat

Dengan hormat,

Saya menulis surat ini dengan hati yang berat karena sudah banyak saudara-saudara asal NTT yang kehilangan nyawanya di tanah Papua.

Kabar meninggalnya tiga orang yang sedang menjalankan tugas di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, kembali mengingatkan kita bahwa masih ada anak-anak bangsa yang harus mempertaruhkan nyawanya ketika menjalankan tugas negara.

Di antara korban tersebut terdapat Willi Mbuik, 24 tahun, seorang anak muda asal Rote, Nusa Tenggara Timur.

Ia berangkat ke Papua bukan untuk berperang.

Ia berangkat untuk bekerja.
Ia adalah seorang anak muda yang sedang membangun masa depan dan mengabdikan dirinya untuk negara.

Namun, keluarganya harus menerima kenyataan yang paling menyakitkan: anak mereka tidak kembali dalam keadaan hidup.

Pertanyaan saya kepada pemerintah sederhana, tetapi sangat penting:

Sampai kapan anak-anak bangsa yang ditugaskan ke daerah rawan harus pergi bekerja dengan ketakutan bahwa mereka mungkin tidak akan pernah kembali?

Bapak/Ibu Pemerintah Republik Indonesia,

Kami memahami bahwa menjaga keamanan di wilayah konflik bukan pekerjaan mudah.

Kami juga memahami bahwa persoalan Papua memiliki sejarah, kompleksitas politik, sosial, ekonomi, dan keamanan yang panjang.

Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan:

Setiap nyawa warga negara adalah tanggung jawab negara.

ASN yang ditempatkan di Papua adalah warga negara Indonesia.
Guru yang mengajar di pelosok adalah warga negara Indonesia.
Tenaga kesehatan yang melayani masyarakat adalah warga negara Indonesia.
Petugas pertanian, dokter hewan, pegawai pemerintah, dan pekerja lainnya juga adalah warga negara Indonesia.

Mereka bukan sekadar nama dalam daftar kepegawaian.

Mereka adalah anak, ayah, ibu, saudara, dan orang-orang yang ditunggu kepulangannya oleh keluarga.
Karena itu, saya memohon kepada pemerintah:

Pertama, jangan biarkan para abdi negara bekerja tanpa perlindungan keamanan yang memadai.

Setiap penempatan pegawai di daerah rawan harus didukung dengan pemetaan risiko, sistem pengamanan, jalur evakuasi, komunikasi darurat, serta prosedur perlindungan yang benar-benar berjalan di lapangan.

Kedua, pemerintah harus terus mencari jalan penyelesaian konflik yang berkelanjutan.

Keamanan memang penting.
Penegakan hukum juga penting.
Tetapi perdamaian yang bertahan lama membutuhkan lebih dari sekadar pendekatan keamanan.

Diperlukan dialog, pembangunan yang adil, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena kalau konflik terus berlangsung, yang menjadi korban bukan hanya aparat.
Masyarakat sipil juga akan terus menjadi korban.
Dan yang paling menyedihkan adalah ketika anak-anak muda yang seharusnya sedang membangun masa depan justru kehilangan nyawa di tengah konflik yang bukan mereka ciptakan.

Bapak/Ibu Pemerintah,
Saya menulis ini bukan untuk menyalahkan pemerintah.

Saya menulis karena saya ingin negara hadir lebih kuat.

Saya menulis sebagai seorang anak Nusa Tenggara Timur yang merasa kehilangan ketika mendengar seorang anak daerah kami, Willi Mbuik, harus mengakhiri hidupnya di tanah Papua ketika sedang menjalankan tugas.

Hari ini keluarga Willi berduka.
Keluarga Aprida Rapi berduka.
Keluarga drh. Alfonsius Albinus Mehan berduka.
Besok jangan sampai ada keluarga lain yang mengalami hal yang sama.

Jangan menunggu korban berikutnya untuk kemudian kita bertanya: "Mengapa ini terjadi?"

Negara harus bertindak sebelum pertanyaan itu kembali muncul.

Kami ingin anak-anak bangsa yang dikirim ke seluruh pelosok negeri dapat bekerja dengan tenang.

Kami ingin mereka pulang membawa cerita tentang pengabdian, bukan pulang dalam peti jenazah.

Kami ingin Papua menjadi tempat di mana guru dapat mengajar dengan aman, tenaga kesehatan dapat melayani dengan tenang, ASN dapat bekerja dengan nyaman, dan masyarakat dapat menjalani kehidupan tanpa rasa takut.

Karena Papua adalah bagian dari Indonesia.
Dan setiap anak bangsa yang mengabdi di sana adalah bagian dari keluarga besar Indonesia.

Untuk pemerintah Republik Indonesia, kami titip satu pesan:

Lindungilah mereka yang telah memilih mengabdi.
Jangan biarkan pengabdian dibalas dengan kehilangan.
Jangan biarkan keberanian berubah menjadi pengorbanan yang seharusnya bisa dicegah.
Dan jangan pernah menganggap satu nyawa sebagai angka statistik.

Di balik setiap nama korban, ada sebuah keluarga yang kehilangan dunia mereka.

Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik bagi Willi Mbuik, Aprida Rapi, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.

Dan semoga negara semakin hadir untuk memastikan bahwa tragedi seperti ini tidak terus berulang.

Salam hormat,

Seorang anak Nusa Tenggara Timur
yang berharap setiap anak bangsa dapat bekerja, mengabdi, dan pulang dengan selamat.
Onesimus Puling 🙏
×
Berita Terbaru Update